Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Februari 2012

# Hobi, Dorongan vs Waktu #


Jika saya sedang dapat tender psikotes menjadi tester, pastinya saya memandu peserta psikotes untuk mengisi lembar daftar riwayat hidup terlebih dahulu. Disana pasti ada kolom hobi dan saya menerjemahkannya dengan kegiatan yang saudara lakukan diwaktu luang.

Hobi saya berubah-ubah. Waktu kuliah, saya hobi membaca dan menulis. Ketika skripsi saya hobi menonton film, karena bosan dengan baca dan tulis. Ketika bekerja, karena hampir tidak ada waktu luang saya hobi bekerja dan tidur. Sekarang, ketika memutuskan berhenti bekerja, saya memiliki hobi yang beraneka ragam.

Ketika jalan-jalan, saya menemukan blog yang membahas tentang korea drama. Disana banyak sekali ulasan tentang film dan hebatnya dibahas per segmen. Saya sempat bertanya bagaimana cara orang membagi waktu luangnya. Karena bagi saya itu tidak mudah untuk dilakukan. Saya percaya orang yang bisa menulis pastinya memiliki aktifitas yang beragam pula. Entah itu kuliah, mengerjakan tugas, bekerja, keluar bersama teman, membantu orang tua dirumah, mengurusi rumah, anak, dapur, dlsb. Saya yakin menonton kemudian menulis pastinya memakan waktu.

Mungkin suatu saat saya akan mengikuti jejaknya. Ceritanya eksperimen pada diri sendiri. Akan menguras perhatian dan waktu, semoga bisa membuat jadwal yang tepat sehingga tidak banyak yang demonstrasi nanti. :)

Jumat, 17 Februari 2012

# Sebuah Perjalanan Bernama "Menulis" #


Ketika suami saya menyarankan untuk menjadi blog walker, saya disarankan untuk melihat blog yang dibuat oleh sastrawan atau lulusan jurusan sastra. Entah mengapa dia menyarankan seperti itu, tapi ketika saya mencoba salah satunya, hal ini jadi menarik. Karena keinginan tahuan jadi berkembang mengenai bagaimana karakterisitik sastrawan itu. Dalam tulisan hasil karyanya, jadi saya merasa ingin mengobservasi secara mendalam.

Saya benar-benar membaca karya seorang penulis. Penulis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yg menulis atau juga bisa disebut pengarang. Apakah orang yang melakukan kegiatan tulis menulis bisa disebut penulis juga? Maklum saya waktu sekolah tidak terlalu gemar dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Hihihi…

Suami dan saya memiliki perasaan yang sama ketika sedang gemar menulis. Jika kami melihat blog orang lain, kita selalu merasa tulisan mereka sangat bagus sekali. Sehingga kami pun merasa ‘jiper’ atau tidak percaya diri untuk menulis kepada massa. Mungkin istilah rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri selalu menjadi peribahasa yang sangat popular. Walau kita tidak tahu apakah rumput hijau itu memang asli atau palsu, betul?

Terasa jika selalu seperti itu, akhirnya ada perasaan pembatasan kebebasan menulis. Umumnya orang yang menggeluti profesi sastrawan mempunyai kebebasan menulis sendiri. Tentunya masih dalam ranah kesusastraannya dan gaya penulisannya sendiri. Ada yang bersifat tersirat (penuh dengan majas, dlsb) ada juga yang melakukannya secara terang-terangan. Itulah keberagaman karya otentik.

Ada orang bilang bahwa semakin banyak menulis, maka anda akan menjadi seorang penulis. Jam terbang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional. Saya pun mengamini pernyataan tersebut, karena di dunia keilmuan saya memang orang yang sering membaca karakter akan semakin professional. Seperti almarhum Pak Nimpuno, hanya melihat gaya berjalan seseorang dia sudah tau karakteristik orang tersebut seperti apa. Kalau di blog pasti terlihat juga ya, usia aktual dia berada di fase mana, pola berpikir dia seperti apa, sampai dorongan yang tidak bisa ia citrakan ke permukaan di kehidupan nyatanya.




Menurut saya menjadi penulis handal perlu niatan, keyakinan untuk memulai, belajar, dan terus berjuang. Pisau tidak akan tajam jikat tidak terus diasah, kan? Bahkan jika tidak digunakan, lama-lama akan berkarat. Sama pulanya dengan bakat, jika tidak ditekuni dan dipakai, ia akan musnah. Just write with your heart.




Rabu, 15 Februari 2012

# Grafologi #



"Saya adalah salah satu penggemar acara di Metro TV. Selain Kick Andy, saya juga suka 811 show, sebuah acara berita di pagi hari yang dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menarik hati. Diam-diam juga karena ada Tommy Cokro disitu, tapi sekarang-sekarang saya sepertinya jarang melihat anchor ganteng itu. :)

Pada tanggal 14 Februari 2012 ini, mereka membahas salah satunya tentang grafologi. Bicara tentang grafologi saya dulu teringat dengan kakak tingkat yang mempelajari seni pembacaan karakter manusia lewat tulisan tangan, lalu dia sedikit mengkombinasikan dengan kartu tarot. Entah dia makan apa ya, sehingga bisa menggunakan metode itu sebagai konseling terhadap beberapa pihak dan menjadi langganan beberapa orang. Smart, hanya konsep law off attraction dimana setiap apa yang kita ucapkan akan menarik energi-energi benda-benda di sekeliling kita, dia bisa menolong orang lain untuk memecahkan masalahnya sendiri. Ingin berguru tapi segan.


Oke, kembali ke topik. Dalam segmen itu, ada seorang ahli grafologi menceritakan karakter orang dari tulisan yang cenderung condong kiri, kanan atau tegak lurus. Dia berkata jika orang yang tegak lurus bertipe orang yang sulit untuk mengemukakan ekspresinya secara langsung, pandai menempatkan diri yang terkadang apa yang dilakukannnya tidak sesuai dengan kata hatinya. Tulisan yang condong ke kanan adalah orang yang sangat bisa mengekspresikan dirinya secara spontan. Sedangkan orang yang tulisannya condong ke kiri, dia orang yang sangat sulit mengekperesikan keinginannya lewat kata-kata. Sehingga orang dengan tipe tersebut akan lebih banyak bertindak langsung ketimbang berbicara. Misalnya, jika pasangannya tiba-tiba sakit, ia akan segera merawatnya tanpa diminta lagi oleh pasangannya. Every womans pasti menyukai hal ini, tapi jika arahnya negatif pasti serem juga ya? :)

Sayangnya Prabu, pembawa acara tersebut tidak menanyakan bagaimana jika tulisannya berubah-ubah? Atau ada kemungkinan bahwa saya terlambat menonton acaranya. :)

Dari topik pembicaraan itu, saya langsung memeriksa tulisan saya dan suami saya. Ternyata ditilik-tilik kami memiliki tipe yang serupa yaitu tulisan kami sama-sama condong tegak lurus. Saya geli, pantas saja kami selalu kehilangan ide jika ingin pergi bermain keluar rumah. Karena kami sulit mengungkapkan apa yang kami inginkan.

Ya sudah, persamaan atau perbedaan itu hal yang wajar bukan? Jika kami menginginkan sama, pasti aka nada sifat-sifat yang berbenturan walau sebenarnya seiring sejalan. Jika berbeda, apalagi kan? Sama atau beda boleh, tapi saling menghormati. :)


Dari seni grafologi ini banyak yang mendukung dan banyak juga tidak. Saya masih belum menemukan titik temunya sih, apakah pembacaan karakter lewat grafologi, sidik jari, golongan darah, dan kawan-kawan cukup valid dan reliabel untuk menggambarkan seorang manusia disitu.

Tapi saya orang yang cukup tertarik dengan hal itu. Dalam dunia psikologi kita mengamati manusia juga diperlukan intuisi. Mungkin metode-metode tersebut menggunakan intuisi yang cukup tajam sehingga bisa menghasilkan gambaran karakter manusia yang cukup relevan.


Saya teringat cerita salah satu alumni psikologi UNPAD yang pernah diajar dan mengasisteni Bpk. Prof. Dr. Jhon Nimpuno (alm.). Dia bercerita saat itu ia dilihat dan dibacakan karakternya secara gratis oleh beliau, menimbang tarif dari almarhum Pak Nimpuno ini sangat mahal sekali, saya rasa dia adalah wanita yang beruntung.

Jika tidak salah ingat dia hanya menorehkan garis saja dan dari A to Z, beliau mempreteli karakter dia plus memberi saran agar dia mengambil magister keprofesian psikologi klinis dibandingkan industri. She really, really, really LUCKY.

Saya haus ilmu, selama satu tahun lebih saya berkutat dengan dunia perkantoran yang membahas karyawan lagi, turn over lagi, kinerja lagi dan segala kekisruhannya. Saya mendamba ilmu yang seperti ini. Semoga ada kesempatan lagi ya, mohon doanya teman. :)


Oiya, almarhum Pak Nimpuno juga mengajarkan beberapa murid untuk menguasai keahlian ini. Tapi dia tidak sembarang pilih orang. Hanya orang-orang tertentu yang ia baca karakternya yang mampu untuk mempelajari ilmu ini. Sepengetahuan saya dia hanya memilih lima orang dan hanya ada satu yang paling berbakat.

Minggu, 12 Februari 2012

# Mulut dan Pena #


Bagi saya yang sekarang berstatuskan ibu rumah tangga muda, televisi, buku, dapur, dan internet adalah sahabat akrab selain suami dan keluarga. Sahabat akrab yang paling sering saya ajak canda ketika sepi di rumah salah satunya televisi dan internet.

Televisi dengan cerdiknya mampu membuat saya tertawa sendiri dengan program-program yang disajikan. Infotainment contohnya, karena program ini paling sering disajikan dan tentunya cara pemberitaannya di ulang-ulang. Ada yang sekedar highlight ataupun pembahasan sampai ke akarnya. Bahkan beberapa acara berita juga sedikit tidaknya membahas berita tentang artis-artis.

Menurut beberapa peramal Indonesia, mereka sering menyebutkan bahwa di tahun 2012 akan banyak pertengkaran dikarenakan cuaca yang panas. Cuaca panas ini memicu orang untuk saling tersinggung, saling melawan dan saling membela diri. Katanya sih cuaca panas ini dikarenakan adanya badai matahari.

Badai Matahari 
(Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2012/02/04/061381724/Waspada-Badai-Matahari-Sampai-Setahun-Mendatang )




Salah satu contoh pertengakaran yang seringkali di ulang-ulang pemberitaannya oleh infotainment di Januari 2012 adalah perselisihan pendapat antara sebut saja salah satu artis yang juga politikus dengan salah satu komposer. Mereka berselisih akan perkataan yang dilontarkan oleh media elektrik blog dan media sosial twitter.

Karena kicauan infotainment yang bertubi-tubi sehingga saya tidak mampu menangkap ocehan mereka. Terlalu tidak jelas dan tidak mengangkat inti permasalahan. Akhirnya saya bertanya pada internet. Kesimpulan dari pertengkaran ini mungkin salah satunya penyampaian ketidaknyamanan melalui media tulisan.

Kalau tidak salah tangkap, informasi ini berawal dari ketidaknyamanan artis tersebut terhadap twitter salah seorang entah siapa itu. Dari sinilah akhirnya ybs. curhat tanpa filter di blognya
Kasus ini pun sudah ada titik perdamaiannya. Tentunya emosi yang tidak terarah akan menyakiti banyak pihak. Sampai masyarakat awam seperti saya ataupun kalian pasti akan tersinggung juga jika menggunakan bahasa yang tidak terfilter.

Melalu media tulisan biasanya candaan belum tentu dapat ditangkap sebagai canda. Karena kita tidak mendengar intonasi suara orang tersebut, betul? Tersinggung biasa juga akibat dari ketidakmampuan untuk memaknai perilaku yang dihasilkan oleh ybs.

Misalnya contoh salah satu tulisan kemarahannya yang mungkin saja akan menyinggung banyak pihak adalah :


“Sehingga memang tidak heran kelakuan dia sangat tidak berbudaya karena memang stadar S1 sih ya?”

Jujur, saya sebagai S1 yang mendapatkan ijazah melalui jalur yang baik dan benar sedikit merasa tersinggung  jika digeneralisasikan seperti itu. Sempat bertanya juga, apakah seseorang yang berbudaya juga akan menjadi orang baik? Apa sih budaya itu? Budaya seperti apa yang dimaksudkan olehnya? Apakah maksud kalimat itu memang untuk meng-diskreditkan S1? Nampaknya saya harus cari beasiswa untuk melanjutkan studi supaya dapat dibilang berbudaya jika memang benar S1 di-diskreditkan. Hihihi :)

Jika tidak bisa memaknai artis dan juga politikus yang sedang dilanda kemarahan itu, mungkin ini bisa jadi permasalahan yang berlarut-larut. Mungkin ybs. tidak bermaksud mengeneralisasikan kemarahannya ya kepada semua S1. :)




   
Menurut Ellis dan Beattie (1986) menjelaskan beberapa karakteristik berbeda antara berbicara dan menulis, yaitu :
1.     Terjadi dalam isolasi dari orang lain;
2.     Termasuk keterlambatan dalam timbal balik sosial;
3.     Membutuhkan perevisian dan pengeditan yang ekstensif;
4.     Termasuk bahasa kompleks secara sintaksis dan leksikal;
5.     Menjadi catatan dalam bentuk yang permanen secara potensial.



Perbandingan antara menulis dan berbicara menyatakan bahwa bahasa tulisan menunjukkan secara signifikan lebih bervariasi dalam perbendaharaan kata daripada bahasa lisan, baik formal ataupun informal. Hal ini dikarenakan dalam tulisan kita perlu untuk merevisi dan mengedit tulisan sehingga terjadi penyampaian bahasa yang tepat.

Penelitian yang dilakukan oleh Hayes (1989) menunjukkan bahwa sejumlah perencanaan dan kualitas perencanaan berkolerasi tinggi dengan kualitas dari teks yang ditulis. Jika tidak perlu revisi dan edit lebih baik kita tuangkan dalam diary pribadi atau catatan-catatan kecil yang tidak perlu diketahui oleh publik.



Banyak pasangan yang bertengkar hanya gara-gara SMS, tidak jarang juga orang bertengkar karena salah ucap satu kata ataupun salah intonasi. Penyampaian komunikasi yang tidak tepat sasaran akan banyak terjadinya kesalahan persepsi yang kemudian berakibat pada perilaku yang akan dihasilkan.

Mungkin ini yang dapat saya maknai tentang kejadian ini. Dulu pada saat saya remaja, saya sempat mengalami kejadian ‘tidak serupa tapi sama’ dengan itu. Oleh karena ini saya mengalami fase stagnan dan berhenti menulis pada publik. Dan lebih berhati-hati lagi untuk menuliskan ide-ide kepada publik. Ide tersbut baik yang memang muncul dari pemikiran saya ataupun kicauan burung orang lain. Terlebih lagi ketika kita menuliskan kicauan burung orang lain yang kita tidak mengetahui keabsahannya. Jangan sampai orang lain yang salah malah kita yang kena dampak sosialnya. So I will more carefully to do this. :) Disarankan juga mempunyai editor pribadi.. :)

Ada istilah yang cocok untuk memberi kesimpulan dari pemikiran ini :
“Mulutmu harimaumu dan Ujung pena lebih tajam daripada ujung pedang” (Kalau sekarang jamannya twitter dan keyboard ya.. ^^). Tapi itu semua tidak terlepas dari pembelajaran hidup. :)

    

Sabtu, 11 Februari 2012

# Nama #




Setiap bayi di dunia yang lahir dan dirawat dengan pantas membutuhkan nama. (Pantas disini dilimpahi oleh kasih sayang).

Sewaktu saya didorong oleh suami untuk kembali menulis kepada publik, hal yang saya bingungkan pertama kali setelah menyetujuinya adalah nama.

Sebenarnya saya bukan penulis, saya hanya bercerita di tulisan. Bagi saya anonymus itu penting, karena ini hanya cerita dalam tulisan. Bebas bagi orang banyak akan percaya atau tidak. Tapi, sepertinya anonymus nama yang terlalu keren bagi sebuah judul jurnal di media elektrik. Hihihi...

Tentunya blog bagi saya layaknya bayi, lahir dari jemari-jemari saya dan perlu sebuah nama.

Idenya berangkat karena saya hanya ingin bercerita tentang kehidupan. Kehidupan ini tidak terlepas dari Life-Span Development atau tahapan perkembangan. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa awal-akhir tentunya di setiap tahapan ini menurut saya pasti memerlukan, mendapat, memberi, dan mencari tentang cinta.


Cinta, memang sebuah kata yang memiliki definisi tak berujung. Tentunya sifatnya universal dan ada di setiap tahapan perkembangan manusia. Akhirnya waktu itu saya membuat blog yang timeline nya a + i = ai (dalam bhs.jepang artinya cinta).

ai



Lalu apa yang terjadi dengan blog ini bernama Mango Trees ???

Setelah membuat blog tanpa isi itu ternyata di wordpress ada yang memakai sama yaitu ai, bedanya ini blog gabungan kisah cinta adam dan hawa. Jadi, blog saya itu terbiarkan kosong dan entah mengapa tidak bisa di akses kembali.

Sewaktu saya mencari resep masakan di internet, saya tertarik dengan blog seorang Ibu Indonesia yang tinggal di Jepang. Judul blognya berkaitan dengan kebun. Saya merasa terinspirasi memberi nama blog dengan hal-hal yang berkaitan dengan kebun.

Karena saya belum memiliki rumah sendiri, saya seringkali membayangkan rumah idaman dengan kebun belakang yang ada berbagai tanaman yang saya sukai. Salah satunya Pohon Mangga. Dan akhirnya, TADA! Blog ini dinamai Mango Trees.. :)


Begitulah ceritanya.. ^^. Kalau kamu bagaimana? :)