Senin, 20 Februari 2012

# Love Gift #

Setiap perempuan biasanya menyukai hadiah. Kali ini saya menghargai hadiah dari suami saya di tengah kesibukannya mencari nafkah. :)


Baginya ini kecil, bagi saya ini sangat besar. Terimakasih ^^




avatar profil picture
Dia coba style baru, langsung menggambar di Adobe Photoshop CS3. Nice.. biasanya dia gambar sketsa di tangan lalu scan dan coloring.. :)








Header baru lagi
Dia menggunakan waktu istirahatnya untuk memodifikasi header setelah membaca salah satu postingan di blog ini. Thank you... :)








Ilustrasi dalam postingan # Sebuah Perjalan Bernama Menulis#


Ketika saya kehilangan selera mencari gambar yang cocok di search engine bernama google. Dengan sukarela, cepat tanggap, dia menghadiahi saya satu karya lagi.. :)








Ilustrasi dalam postingan # Hobi, Dorongan vs Waktu #


Hal ini dia lakukan di hadapan saya, tapi pengerjaannya lama sekali. Karena suami saya mengalami kemandegan untuk judul yang satu ini. Maaf, kok jadi repot ya... :)






Ilustrasi dalam postingan # Ketika Waktu Tak Lagi Cukup #


Ilustarsi ini cepat sekali, langsung dia gambar di CS3. Sepertinya gambar yang berhubungan dengan sisi kegelapan dia sangat gemar. Jadi cepat... Thank you, again. ^^

Minggu, 19 Februari 2012

# Ketika Waktu Tak Lagi Cukup #


Awal tahun 2012 banyak sekali media yang mengulas tentang kematian. Banyak sekali kecelakaan yang menewaskan jiwa-jiwa tak berdosa. Banyak pula orang-orang ternama yang tutup usianya. Semua disorot dan dibahas secara mendalam dimana-mana.

Fenomena umum jika adanya seseorang yang meninggal adalah kesedihan yang mendalam orang-orang sekitarnya. Apalagi orang-orang terdekat. Terlebih lagi jika orang tersebut memiliki banyak kenalan dan semasa hidupnya pernah melakukan kebajikan, pelayatnya pasti banyak. Ada yang simpati betulan ada yang tidak. Ada yang ikhlas membatu pemakaman ada yang tidak.

Di dalam As Shahih diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Apabila seorang anak Adam meninggal, maka akan terputus amalannya kecuali tiga perkara : shadaqoh jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kepadanya”.

Jadi banyaknya harta, anak, jumlah pelayat yang akan menguburkan kita tidak akan bermanfaat bagi pahala orang yang sudah meninggal. Tapi bermanfaat bagi yang ditinggalkan jika dilaksanakan sesuai dengan kaedah agamanya. Sesuai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad S.A.W.

Banyak harta boleh, tapi bukan untuk kita tapi untuk diamalkan, disedekahkan. Banyak anak boleh, tapi harus bisa mendidiknya sehingga tidak mengecewakan Sang Pemberi Amanah. Sekolah tinggi boleh, asal tidak riya dan terus menerus mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan. Islam mengajarkan untuk berbagi. Akan lebih baik lagi kegiatan ini merupakan dorongan hati nurani. Kita bersedekah bukan ingin mendapat pahala yang banyak atau memang suatu keharusan. Melakukan kasih terhadap sesama tanpa memikirkan imbalan, biarkan imbalan hanya Tuhan yang menilai. Allah tau apa yang umat-Nya kerjakan.

Bagaimana dengan banyak pelayat ketika kita tutup usia? Boleh, karena sewajarnya mereka datang untuk membantu kita. Seonggok mayat pastinya tak berdaya. Bolehlah bangkai kerbau liar di hutan mati begitu saja. Tapi jika mayat manusia, uruslah layaknya itu dirimu sendiri. Memanusiakan manusia. :)

Saat seorang tutup usia, orang terdekat akan masuk ke fase duka cita. Duka cita adalah kelumpuhan emosional, tidak percaya, kecemasan akan berpisah, putus asa, sedih dan kesepian yang menyertai di saat kita kehilangan orang yang kita cintai (Santrock, 1995 : 272). Di sini salah satu fungsi pelayat. Dari fenomena yang sudah-sudah, saya mengobservasi. Ketika keluarga yang ditinggalkan dikunjungi oleh pelayat, mereka lebih bisa menegarkan diri sendiri.

Dari dua pemakaman sahabat-sahabat saya, saya terkejut dengan reaksi keluarga. Mereka seolah senang ternyata anak mereka melakukan sesuatu yang baik semasa hidupnya, tidak ada sifat buruk yang dilontarkan semuanya bercerita tentang kebajikan-kebajikan yang telah diperbuat. Ternyata ketidakberadaan anak mereka begitu penting untuk orang lain, mereka pun lebih merelakan. Mereka merasa tugas mereka sudah selesai dan bisa mempertanggungjawabkannya kepada Tuhan mereka.

Menurut Averil (dalam Santrock, 1995), orang yang ditinggalkan akan menempuh tiga fase penting lainnya yaitu; terkejut, putus asa, dan pulih kembali. Salah satu fungsi pelayat adalah mempercepat fase tersebut. Cepat mencapai fase pulih kembali dan menjalani kehidupan, bukan meratapi yang sudah tiada.

Ketika kita berpikir tentang kematian, sudah cukupkah waktu kita untuk berbuat kebajikan dan sudahkan kita mendapat ampunan dari Tuhan? Setidaknya menjaga perdamaian hati sesama manusia dan saling memaafkan. Memahami segala perbedaan dan berbagi cinta kasih. Kita menjadi sadar akan dunia ketika kita akan mencapai waktunya nanti. Kita sadar kemana kita akan berpulang, kemana kita harus memohon rejeki ataupun ampunan.




Man is the only animal that finds his own existence, a problem he has to solve and from which be cannot escape. In the same sense man is the only animal who knows he must die
(Erich Fromm).

Sabtu, 18 Februari 2012

# Hobi, Dorongan vs Waktu #


Jika saya sedang dapat tender psikotes menjadi tester, pastinya saya memandu peserta psikotes untuk mengisi lembar daftar riwayat hidup terlebih dahulu. Disana pasti ada kolom hobi dan saya menerjemahkannya dengan kegiatan yang saudara lakukan diwaktu luang.

Hobi saya berubah-ubah. Waktu kuliah, saya hobi membaca dan menulis. Ketika skripsi saya hobi menonton film, karena bosan dengan baca dan tulis. Ketika bekerja, karena hampir tidak ada waktu luang saya hobi bekerja dan tidur. Sekarang, ketika memutuskan berhenti bekerja, saya memiliki hobi yang beraneka ragam.

Ketika jalan-jalan, saya menemukan blog yang membahas tentang korea drama. Disana banyak sekali ulasan tentang film dan hebatnya dibahas per segmen. Saya sempat bertanya bagaimana cara orang membagi waktu luangnya. Karena bagi saya itu tidak mudah untuk dilakukan. Saya percaya orang yang bisa menulis pastinya memiliki aktifitas yang beragam pula. Entah itu kuliah, mengerjakan tugas, bekerja, keluar bersama teman, membantu orang tua dirumah, mengurusi rumah, anak, dapur, dlsb. Saya yakin menonton kemudian menulis pastinya memakan waktu.

Mungkin suatu saat saya akan mengikuti jejaknya. Ceritanya eksperimen pada diri sendiri. Akan menguras perhatian dan waktu, semoga bisa membuat jadwal yang tepat sehingga tidak banyak yang demonstrasi nanti. :)

Jumat, 17 Februari 2012

# Sebuah Perjalanan Bernama "Menulis" #


Ketika suami saya menyarankan untuk menjadi blog walker, saya disarankan untuk melihat blog yang dibuat oleh sastrawan atau lulusan jurusan sastra. Entah mengapa dia menyarankan seperti itu, tapi ketika saya mencoba salah satunya, hal ini jadi menarik. Karena keinginan tahuan jadi berkembang mengenai bagaimana karakterisitik sastrawan itu. Dalam tulisan hasil karyanya, jadi saya merasa ingin mengobservasi secara mendalam.

Saya benar-benar membaca karya seorang penulis. Penulis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yg menulis atau juga bisa disebut pengarang. Apakah orang yang melakukan kegiatan tulis menulis bisa disebut penulis juga? Maklum saya waktu sekolah tidak terlalu gemar dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Hihihi…

Suami dan saya memiliki perasaan yang sama ketika sedang gemar menulis. Jika kami melihat blog orang lain, kita selalu merasa tulisan mereka sangat bagus sekali. Sehingga kami pun merasa ‘jiper’ atau tidak percaya diri untuk menulis kepada massa. Mungkin istilah rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri selalu menjadi peribahasa yang sangat popular. Walau kita tidak tahu apakah rumput hijau itu memang asli atau palsu, betul?

Terasa jika selalu seperti itu, akhirnya ada perasaan pembatasan kebebasan menulis. Umumnya orang yang menggeluti profesi sastrawan mempunyai kebebasan menulis sendiri. Tentunya masih dalam ranah kesusastraannya dan gaya penulisannya sendiri. Ada yang bersifat tersirat (penuh dengan majas, dlsb) ada juga yang melakukannya secara terang-terangan. Itulah keberagaman karya otentik.

Ada orang bilang bahwa semakin banyak menulis, maka anda akan menjadi seorang penulis. Jam terbang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional. Saya pun mengamini pernyataan tersebut, karena di dunia keilmuan saya memang orang yang sering membaca karakter akan semakin professional. Seperti almarhum Pak Nimpuno, hanya melihat gaya berjalan seseorang dia sudah tau karakteristik orang tersebut seperti apa. Kalau di blog pasti terlihat juga ya, usia aktual dia berada di fase mana, pola berpikir dia seperti apa, sampai dorongan yang tidak bisa ia citrakan ke permukaan di kehidupan nyatanya.




Menurut saya menjadi penulis handal perlu niatan, keyakinan untuk memulai, belajar, dan terus berjuang. Pisau tidak akan tajam jikat tidak terus diasah, kan? Bahkan jika tidak digunakan, lama-lama akan berkarat. Sama pulanya dengan bakat, jika tidak ditekuni dan dipakai, ia akan musnah. Just write with your heart.




Kamis, 16 Februari 2012

# Ketika Emosi Bertemu Bakat, Sebuah Transformasi #


Sewaktu kuliah dulu mantan pacar yang kini menjadi suami saya pernah mengantarkan dosen dari jurusan kami ke pintu gerbang kampus. Kampus kami cukup jauh dan naik turun, tak heran saya turun beberapa kilo karena setiap hari saya harus memiliki usaha yang bersifat keolahragaan terlebih dahulu jika ingin kuliah. Belum lagi jika terlambat, saya bisa mengeluarkan ekstra energi pada saat kondisi kritis itu.

Dosen wanita tersebut terkenal akan ‘kejudesannya’, namun seiring berjalannya waktu, beliau berubah layaknya bidadari. Beliau juga seperti artis di kampus kami, setiap ia lewat di depan kami jalannya yang cepat membuat bola mata kita terikat pada aura nya, mengikutinya sampai dia berada di ruangannya. Bagi kami beliau adalah salah satu dosen yang cerdas dan kritis. Jadi kebanyakan orang segan untuk dekat dengan beliau.

Dalam perjalanan mengantarkan sang dosen, suami saya diajak suatu diskusi singkat. Beliau menceritakan bahwa ada buku yang bagus yang dapat dibaca sebagai referensi. Buku tersebut bernama law of attraction. Beliau menyebutkan intisari dari buku tersebut. Sampai sekarang kami belum membaca buku itu, karena penerbit yang beliau maksudkan belum kami dapatkan.

Inti yang ingin beliau sampaikan adalah bahwa dalam diri manusia terdapat listrik statis yang dapat menarik energi-energi listrik benda-beda sekitar. Sederhananya jika kita berpikir positif, maka hal-hal yang positif akan datang menghampiri. Begitupun sebaliknya. Apakah emosi juga bisa menarik energi?

Ketika saya menonton tv one disana mengundang seorang talent wanita muda yang menghaslkan suatu ilustrasi gambar. Dimana dia menekankan bahwa gambar tersebut tercipta karena sedang menunjukkan emosi tertentu seusai membaca. Emosi itu dia gambar dan emosi yang ada di dalam gambar tersebut dapat menarik pembeli. Dia mengaku bahwa pembeli jika melihat gambar dan warna yang ditampilkan pada gambarnya, maka pesan emosi yang ingin dia sampaikan dapat tercitrakan menjadi sebuah kesan ataupun perasaan.

Ini contoh beberapa gambarnya, saya menyukai gambar wanita dengan rok dan menulis sesuatu di atas buku.



     
(diambil dari : http://chuzailiving.wordpress.com/)







Penciptanya bernama Melissa Sunjaya












Ini adalah tokonya di  Darmawangsa Square City Walk, Jakarta   :













Dia menulis buku juga, katanya sih niatan awal memang menulis buku tapi untuk strateginya, dia menjual produk terlebih dahulu. Dibantu Ibunya yang seorang home designer. Dia belajar seni kaligrafi juga dari ayahnya. Wow, keluarga berdarah seni. :)
















Ini lovely scetch, biasanya yang membeli tipe konsumen wanita yang girly.







OMG, dia pakai pulpen ternyata ya…













Jadi ingin kesana, semoga ada rejekinya. I love talent people... :) Suka banget sama suasana tokonya. So vintage, so warm. ^^ Mostly I loves their chair…


          

Rabu, 15 Februari 2012

# Grafologi #



"Saya adalah salah satu penggemar acara di Metro TV. Selain Kick Andy, saya juga suka 811 show, sebuah acara berita di pagi hari yang dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menarik hati. Diam-diam juga karena ada Tommy Cokro disitu, tapi sekarang-sekarang saya sepertinya jarang melihat anchor ganteng itu. :)

Pada tanggal 14 Februari 2012 ini, mereka membahas salah satunya tentang grafologi. Bicara tentang grafologi saya dulu teringat dengan kakak tingkat yang mempelajari seni pembacaan karakter manusia lewat tulisan tangan, lalu dia sedikit mengkombinasikan dengan kartu tarot. Entah dia makan apa ya, sehingga bisa menggunakan metode itu sebagai konseling terhadap beberapa pihak dan menjadi langganan beberapa orang. Smart, hanya konsep law off attraction dimana setiap apa yang kita ucapkan akan menarik energi-energi benda-benda di sekeliling kita, dia bisa menolong orang lain untuk memecahkan masalahnya sendiri. Ingin berguru tapi segan.


Oke, kembali ke topik. Dalam segmen itu, ada seorang ahli grafologi menceritakan karakter orang dari tulisan yang cenderung condong kiri, kanan atau tegak lurus. Dia berkata jika orang yang tegak lurus bertipe orang yang sulit untuk mengemukakan ekspresinya secara langsung, pandai menempatkan diri yang terkadang apa yang dilakukannnya tidak sesuai dengan kata hatinya. Tulisan yang condong ke kanan adalah orang yang sangat bisa mengekspresikan dirinya secara spontan. Sedangkan orang yang tulisannya condong ke kiri, dia orang yang sangat sulit mengekperesikan keinginannya lewat kata-kata. Sehingga orang dengan tipe tersebut akan lebih banyak bertindak langsung ketimbang berbicara. Misalnya, jika pasangannya tiba-tiba sakit, ia akan segera merawatnya tanpa diminta lagi oleh pasangannya. Every womans pasti menyukai hal ini, tapi jika arahnya negatif pasti serem juga ya? :)

Sayangnya Prabu, pembawa acara tersebut tidak menanyakan bagaimana jika tulisannya berubah-ubah? Atau ada kemungkinan bahwa saya terlambat menonton acaranya. :)

Dari topik pembicaraan itu, saya langsung memeriksa tulisan saya dan suami saya. Ternyata ditilik-tilik kami memiliki tipe yang serupa yaitu tulisan kami sama-sama condong tegak lurus. Saya geli, pantas saja kami selalu kehilangan ide jika ingin pergi bermain keluar rumah. Karena kami sulit mengungkapkan apa yang kami inginkan.

Ya sudah, persamaan atau perbedaan itu hal yang wajar bukan? Jika kami menginginkan sama, pasti aka nada sifat-sifat yang berbenturan walau sebenarnya seiring sejalan. Jika berbeda, apalagi kan? Sama atau beda boleh, tapi saling menghormati. :)


Dari seni grafologi ini banyak yang mendukung dan banyak juga tidak. Saya masih belum menemukan titik temunya sih, apakah pembacaan karakter lewat grafologi, sidik jari, golongan darah, dan kawan-kawan cukup valid dan reliabel untuk menggambarkan seorang manusia disitu.

Tapi saya orang yang cukup tertarik dengan hal itu. Dalam dunia psikologi kita mengamati manusia juga diperlukan intuisi. Mungkin metode-metode tersebut menggunakan intuisi yang cukup tajam sehingga bisa menghasilkan gambaran karakter manusia yang cukup relevan.


Saya teringat cerita salah satu alumni psikologi UNPAD yang pernah diajar dan mengasisteni Bpk. Prof. Dr. Jhon Nimpuno (alm.). Dia bercerita saat itu ia dilihat dan dibacakan karakternya secara gratis oleh beliau, menimbang tarif dari almarhum Pak Nimpuno ini sangat mahal sekali, saya rasa dia adalah wanita yang beruntung.

Jika tidak salah ingat dia hanya menorehkan garis saja dan dari A to Z, beliau mempreteli karakter dia plus memberi saran agar dia mengambil magister keprofesian psikologi klinis dibandingkan industri. She really, really, really LUCKY.

Saya haus ilmu, selama satu tahun lebih saya berkutat dengan dunia perkantoran yang membahas karyawan lagi, turn over lagi, kinerja lagi dan segala kekisruhannya. Saya mendamba ilmu yang seperti ini. Semoga ada kesempatan lagi ya, mohon doanya teman. :)


Oiya, almarhum Pak Nimpuno juga mengajarkan beberapa murid untuk menguasai keahlian ini. Tapi dia tidak sembarang pilih orang. Hanya orang-orang tertentu yang ia baca karakternya yang mampu untuk mempelajari ilmu ini. Sepengetahuan saya dia hanya memilih lima orang dan hanya ada satu yang paling berbakat.

Selasa, 14 Februari 2012

# New Lovely Header #

My Husband sent me a gift for my new blog.. :)


Thank you, Happy Valentine dear.. I always love you everyday... ^^




Hmm... I hope he add more flower.. hihihi.. ^^

Minggu, 12 Februari 2012

# Resep Lobster (Udang Besar) saus Padang #



Ini pertama kalinya saya pamer masakan beserta resepnya. Ternyata sidikit ribet juga ya, akhirnya saya hanya mengambil gambar ketika keadaan saya tidak begitu repot.

Ceritanya ketika saya bangun, ibu saya sedang membersihkan udang. Tapi setelah dilihat-lihat kok ukurannya tidak biasa. Rupanya adik saya baru dapat rejeki. Rekan kantornya ada yang baru pulang dari Papua dan bawa oleh-oleh makanan mewah ini.

Ukurannya tidak sejumbo di acara kuliner setiap sabtu-minggu itu sih di TV. Entah ini jenis apa, tapi tetap yummy bagi saya.

Ibu saya bingung mau mengolahnya seperti apa. Kebetulan yang bisa makan hanya saya dan Ibu saya. Adik saya punya alergi dan Bapak saya ada asam urat dikit. Kemana suami saya? Dia tidak pulang minggu ini, rencananya minggu depan.

Saya buka primbon resep, disitu ada cara membuat sate padang. Okelah mulai percobaan kita membuat saus padang saja. Siapa tau enak dan minggu depan bisa masak lagi buat suami.

Saya bagi sedikit resepnya ya.

Kita mulai dari Bahan :

1 lbr daun kunyit (kalau saya dipotong2, supaya sarinya lebih keluar)
4 lbr daun jeruk purut
1 btg serai, memarkan dan potong bagian panjang
1 ptg asam kandis
50 gr tepung beras dan 1 sdm tepung sagu, untuk setiap 500cc air (Jika tidak ada pakai 1 sdt maizena juga cukup)

Bumbu yang dihaluskan :

8 bh cabai merah (boleh kurang atau lebih atau disisipkan cabai rawit)
2 sdt ketumbar yang sudah disangrai
1 sdt merica bulat (kalau pakai merica hitam nampak lebih yummy)
¼ sdt jintan sangrai (kalau saya sekitar 2-3 jumputan jari)
6 bh bawang merah (boleh lebih)
4 bh bawang putih (kurang juga bisa atau tidak pakai juga boleh)
1 sdt kunyit cincang
1 sdt jahe cincang
½ sdm lengkuas cincang
Garam secukupnya
1-2 sdm minyak (pakai minyak bekas menggoreng lobster)

Caranya :
1.     Bersihkan lobster, karena kotoran di punggungnya banyak sekali. Cuci bersih dan marinasi pakai garam.

2.  Tusuk lobster pakai tusuk sate supaya lobster tetap lurus. Caranya dari kepala (ada bolongan sedikit) terus sampai ke ujung ekor.

Tusuk Sate

3.  Jika sudah siap, goreng menggunakan minyak dan jika sudah kemerahannya merata angkat. Jangan terlalu lama nanti daging akan sedikit keras.



udang besar yang sudah di goreng YUM...


4.  Siapkan bumbu yang dihaluskan. Jika mau pakai blender boleh masukan semua dan tambahkan minyak sedikit saja, tapi saya masih senang pakai ulekan. Saya ulek sampai halus.

5.     Siapkan minyak bekas lobster tadi untuk menumis. Sesuaikan minyak dengan bumbu yang yang akan di tumis. Kemudian tumis bumbu halus tersebut dan masukan daun jeruk + daun kunyit, kemudian sereh dan asam kandis.

6.  Ketika sudah harum tambahkan sedikit air dan aduk-aduk terus sampai bumbu matang.


Biarkan bumbu matang baru masuk maizena


7.   Siapkan tepung beras dan sagu kemudian encerkan dengan air. Karena kami tidak ada stok akhirnya pakai maizena yang diencerkan. Fungsi nya sama untuk mengentalkan.

Contoh maizena

Encerkan Maizena sedikit air saja

8.     Jika bumbu matang masukan maizena cair tersebut dan sambil terus diaduk-aduk.

9.  Lalu masukan lobster yang sudah digoreng. Cabut tusukannya supaya mudah untuk dimasak bersama bumbu.




Biarkan meresap


10.             Biarkan bumbu meresap kedalam lobster sedikit. Kemudian angkat dan sajikan.



Yummy... :)


Bisa dimakan bersama nasi hangat atau hanya sekedar jadi camilan enak.


Sensasi ketika memakan udang ini, rasa dagingnya manis. Ternyata kualitas udang pemberian ini sangat baik. Jadi saya tidak menambahkan gula ke bumbu. so yummy and delicious. Yummmmmmmmmm~ :9


Bon Appettite, selamat mencoba resepnya yaa.. :)